Sabtu, 25 Februari 2017

Koordinator Bermodalkan Tekad

         Beberapa tahun yang lalu, saya pertama kalinya diberikan amanah sebagai koordinator kegiatan dari lembaga yang saya ikuti di kampus. Kegiatan ini tidak terlalu besar hanya saja kegiatan ini merupakan kegiatan yang pertama dilaksanakan diawal kepengurusan kami.  Selain kegiatan pertama, kegiatan ini juga merupakan kegiatan yang pertama kalinya, saya menjadi koordinator kegiatan. Awalnya, secara spontan tentu saya menolaknya sebab saya tak punya kemampuan untuk menjadi koordinator bahkan saya juga tidak tau apa saja yang harus dilakukan ketika menjadi koordinator. Namun, dengan dorongan dan kepercayaan teman-teman pengurus, saya mencoba mengemban amanah tersebut. Tapi, hal tersebut tidak membuat saya merasa percaya diri, justru ada kekhawatiran didalamnya dan bahkan ketakutan tentang hal-hal buruk yang akan terjadi saat kegiatan berlangsung. Harus saya akui, menjadi koordinator merupakan tantangan terbesarku dalam berorganisasi saat itu. Jujur saja, saya adalah orang yang mungkin lebih memilih mengerjakan apapun itu selain menjadi koordinator. Didalam pemikiranku, sungguh menjadi koordinator itu tak enak rasanya, ia harus bertanggungjawab penuh pada kegiataan tersebut.

    Dengan hanya bermodalkan tekad, saya berharap kepada teman-teman untuk membantu mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk kegiatan. Saya memulai dengan cara membentuk tim dan memilih beberapa teman untuk dijadikan sebagai penanggungjawab setiap seksi. Mulai dari seksi acara, seksi perlengkapan, dan seksi dana serta konsumsi. Beberapa hari setelah pembentukan tim tersebut, kinerja kami belum kelihatan. Dikarenakan, beberapa teman yang telah dipilih tersebut belum mengerjakan tugasnya masing-masing. Semenjak itu, saya mulai cemas. Bingung harus bagaimana apalagi saya merasa tidak enak ketika harus menyuruh mereka untuk segera menyelesaikan tugasnya. Hari semakin berlalu, sisa dua minggu yang harus digunakan untuk menyelesaikan segala persiapan untuk kegiatan. Ini benar-benar membuatku mulai lebih panik. Benar saja, bayangkan dana belum cukup untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan sedangkan susunan acara belum fix dan beberapa teman-teman juga mulai lebih sibuk dengan tanggungjawabnya sebagai pengurus.

        Tak ada jalan lain. Keesokan harinya, saya berinisiatif sendiri mencari dana untuk keperluan kegiatan dengan cara menjual kue di mahasiswa-mahasiswa lainnya. Mulai dari itu sedikit demi sedikit dana kegiatan sudah ada. Sore harinya, saya mengadakan rapat untuk membahas sejauhmana persiapan kegiatan telah rampung dan disaat itupun saya  mengharapkan teman-teman untuk lebih serius dalam kegiatan ini. Saya rasa, jika hanya saya yang serius mempersiapkan kegiatan ini, tentu kegiatan tersebut bukan untuk lembaga tapi untuk saya sendiri. Salah satu keburukanku menjadi koordinator adalah saya takut menyampaikan perasaaan  sendiri dan keinginanku karena saya masih lebih mementingkan rasa tidak enak untuk menyuruh teman-teman mengerjakan tanggungjawab untuk kegiatan tersebut. Selepas rapat, ternyata teman-teman sadar akan tugasnya dan keesokan harinya mereka mulai mengerjakan tugasnya masing-masing dan ini membuatku lebih tenang dan bersyukur. Dalam melaksanakan suatu kegiatan, mengadakan rapat merupakan salah satu yang terpenting dikarenakan dari hasil rapat, ada ide yang disetujui, ada evaluasi  yang harus dilakukan, dan hal-hal yang akan dikerjakan selanjutnya.  Sisa satu hari, kegiatan akan berlangsung. Persiapan telah lengkap, mulai dari susunan acara hingga perlengkapan untuk kegiatan, dan peserta yang akan hadir pada kegiatan. Kegiatan tersebut berlangsung dengan lancer selama dua hari berkat tim yang telah melaksanakan kewajibannya dengan baik.

        Tentu saja, menjadi koordinator tidaklah mudah. Perlu kerjasama yang kuat didalamnya. Kita harus tau kapan sifat ketidakenakkan kita harus muncul dan kapan tidak. Tapi, harus diketahui bahwa tak perlu menyembunyikan diri dan menolak untuk mencoba hal yang baru. Menurut saya, Kekhwatiran yang besar tentu saja akan selalu beriringan dengan diberikannya tanggungjawab yang besar tapi akan redah jika kita punya kekuatan yang lebih besar untuk belajar mencoba hal yang baru. Menjadi koordinator untuk pertama kalinya tentu banyak pembelajaran yang bisa saya ambil. 

Jumat, 17 Februari 2017

Setelah Jatuh

Warnanya hitam dan putih, mirip belang zebra, adalah motor yang selalu menemaniku kemana saja melintasi kotaku. Aku tidak akan bisa sebebas mungkin mengelilingi dan melintasi kotaku dengan mudahnya tanpa motorku ini. Aku mengendarai motor ini sudah lama, kurang lebih empat tahun. Sehingga, dalam jangka waktu itupun aku memiliki berbagai kejadian yang berkaitan dengan motorku ini. Nah, dari berbagai banyak kejadian yang pernah aku alami saat mengendarai motorku ini, Aku memilih menceritakan tentang awal aku berkendara motor di jalan raya.

Layaknya anak yang ingin pintar membaca, mereka terlebih dahulu harus mengenal huruf secara bertahap hingga dapat membaca kalimat secara sempurna. Seperti itu pula aku yang ingin pintar mengendarai motor. Terlebih dahulu aku harus mampu mengenal fungsi disetiap bagian-bagian alat yang ada di motorku. Setelah aku diberitahu bagian-bagian alat pada motor oleh sepupu laki-lakiku, yang tersimpan di memoriku hanyalah fungsi gas, rem, klakson, lampu, dan beberapa bagian alat yang hanya digunakan secara umum. Lebih dari itu, aku sudah tidak paham lagi tentang bagian motor yang lainnya. Yang jelas, aku mengetahui fungsi secara umumnya saja. Kemudian, setelah mengetahuinya barulah aku mulai mencoba untuk mengendarainya. Tak terlalu lama, sayapun dapat mengendarai motor kurang lebih selama seminggu.

Dengan bekal hasil pembelajaran selama seminggu mengendarai motor ditambah dengan keberanianku, aku mencoba mengendarai motor di jalan raya sendiri. Perasaan yang tergambarkan ketika pertama kali mengendarai motor di jalan raya ibarat lewat dihadapan bapak polisi padahal kita tidak punya SIM. Jantung berdebar, tak hentinya bersalawat, dan wajah yang tegang. Tidak hanya itu, ketakutan dan kegelisahan bercampur aduk. Pemikiran tentang bagaimana kalau aku jatuh dikeramaian, apa yang harus kulakukan? Bagaimana kalau tidak ada yang menolong? Malahan orang-orang hanya menertawaiku saja. Itulah yang tergambarkan. Mungkin sedikit lebay, tapi sungguh dihari itu mungkin hanya akulah satu-satunya pengendara yang memasang wajah tegang. Tidak hanya itu, kecepatan motorku jugalah yang paling lambat, mungkin becak lebih cepat berjalan dibandingkan motorku.

Tidak ada tujuan tempat saat pertama kali mengendarai motor dijalan raya. Aku hanya benar-benar ingin mencobanya. Sekitar 10 menit mengendarai motor, Aku mulai merasa baik dan keberanianku semakin membesar. Kurasa, aku sudah bisa mengendarai motor dijalan raya dengan cukup baik, berbekal keberanian dan hasil belajarku selama seminggu. Perasaan dan pemikiran negatif yang terlintas tadinya juga semakin memudar. Semakin lama aku mengendarai, semakin asyik kurasa dan bahkan aku sudah berani menengok kanan dan kiri. Oh iya, tentu saja sebelum berkendara aku menggunakan perlengkapan berkendara dengan lengkap. Ini adalah hal yang wajib, menggunakan helm dan memakai sepatu tentu saja kukenakan.

Setelah berlama-lama mengendarai motor dijalan raya, aku memutuskan untuk kembali ke rumah beristirahat. Jalan yang aku lalui tentunya berbeda dengan jalan pulang. Rupanya jalan pulang menuju rumah banyak yang berlubang saat itu, jadi aku sadar bahwa aku harus lebih berhati-hati dibandingkan jalan sebelumnya. Namun, ditengah perjalanan setelah melewati jalanan berlubang, aku dipertemukan dengan kemacetan yang luar biasa. Saat itu, aku belum pandai untuk mendahului kendaraan yang lain ketika ada jalan kosong yang dapat dilewati. Akhirnya, aku hanya mengikuti jalurku saja. Namun, aku melihat kendaraan motor yang lainnya bisa menyelinap begitu saja, aku merasa ingin melakukannya. Tapi, aku masih takut untuk melakukannya. Beberapa menit berlalu, aku masih terjebak dengan kemacetan. Dengan rasa ketidaksabaran yang terus bertambah, kuberanikan diriku untuk mendahului kendaraan yang lainnya. Namun, ketika aku mulai mengarahkan motorku ke bagian kanan. Rupanya, tiba-tiba mobil melaju hingga menabrak motorku. Aku kaget dan akhirnya aku terjatuh. Untung saja, kecelakaan ini tidak parah karena aku hanya memiliki luka kecil dibagian tangan. Bapak yang melihatku terjatuh kemudian menolongku. Beberapa orang pun ikut membantuku, mendorong motorku sampai dipinggir jalan dan menanyakan keadaanku dan beberapa orang hanya melihatku saja bahkan mobil yang tadinya menabrakku pergi begitu saja.


Aku tau bahwa kejadian yang menimpah diriku karena kesalahanku sendiri, rasa yang tidak sabar dan ingin meniru orang lain hanya membuatku celaka. Aku bahkan tidak memikirkan sebelumnya dampak yang akan terjadi ketika aku mengikuti orang lain. Disatu sisi, aku harus pula bersyukur bahwa rasa kepedulian yang ada didalam diri setiap manusia mampu menolongku dalam kesulitan. Aku berterima kasih kepada bapak dan orang yang membantuku ketika aku terjatuh. Ucapan terima kasihku bukan menjadi penutup pembicaraanku dengan mereka. Tapi, mereka memberikanku nasehat saat berkendara dan hal itu menjadi pelajaran juga bagiku. Aku akan mulai lebih berhati-hati lagi saat berkendara. Setelah beristirahat beberapa menit dan rasa sakit yang sudah mulai membaik, aku kembali bergegas mengendarai motorku untuk sampai pada rumah. Setelah kejadian yang menimpaku saat pertama kali mengendarai motor dijalan raya, tak lantas membuatku takut untuk melakukannya lagi. Setelah jatuh dari motor, aku akan lebih berhati-hati dalam mengendarainya. Bahkan dari kejadian itu aku lebih berani mengendarai motor dijalan raya. Yang jelas, harus berhati-hati dan mematuhi aturan lalu lintas saat berkendara. Selain dari itu, ketika berkendara jangan meniru pengendara yang lain karena apa yang dilakukan pengendara lain khususnya motor belum tentu baik untuk diri kita. Bagiku, berhati-hati dan menikmati perjalanan saat berkendara salah satu kenikmatan ketika kita bisa mengendarai motor. 

Jumat, 19 Februari 2016

AIR TERJUN SURAMBU

“Aku selalu menyakini bahwa dengan siapapun itu, setiap tempat yang kudatangi akan selalu meninggalkan tentang kisah, kenangan, jejak, dan kerinduan”


Saat itu aku dengan ketujuh temanku melakukan perjalanan dengan tujuan untuk liburan dan  melepaskan kepenatan dari rutinitas keseharian yang terkadang membuat kami jenuh, lelah, dan rasa malas yang semakin bersarang. Satu-satunya cara untuk mengembalikan semangat adalah dengan liburan dan kalimat ini sudah menjadi kepercayaan tersendiri bagi kami ketika sudah berada dalam kejenuhan. Kami memilih Tanah Toraja sebagai tempat untuk melepas segala kejenuhan, kelelahan, dan bahkan kemalasan yang kami sering rasakan akhir-akhir ini ketika bergelut didunia perkuliahan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menjadikan Tana Toraja yang kaya dengan tempat wisata dan berbagai budaya disana sebagai tempat liburan kami. Sekarang, aku tidak akan banyak bercerita tentang perjalanan kami sampai ke Tanah Toraja seperti apa. Tapi, aku akan menceritakan perjalanan liburan kami disalah satu tempat yang masih jarang dikunjungi oleh penikmat wisata yang datang disana. Tempat yang kami maksud adalah Air Terjun Surambu.


Perjalanan menuju ke tempat Air Terjun Surambu dimulai hari pertama kami berada disana. Setelah disungguhi dengan pemandangan pagi yang begitu menyejugkan. Tepat pada pukul 07.15 WITA, kami segera bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menuju ke lokasi. Perjalanan menuju ke lokasi menghabiskan waktu sekitar 2 Jam dari kota Tana Toraja. Diperjalanan kami dimanjakan dengan pemandangan alam seperti, gunung-gunung yang berjejeran membentuk keindahan, langit yang mulai membiru, dan pancaran matahari yang menghangatkan. Perjalanan kami juga dilengkapi dengan lagu “see beneath your beautiful” yang sudah harus menjadi playlist dalam perjalanan kami dan entah kenapa berkali-kali kami putar lagu tersebut, kami tetap tidak bosan. Sesekali pula kami berhenti ketika kami menemukan pemandangan yang sangat menarik dan mengabadikan setiap  Sudah 2 Jam kami menikmati perjalanan dengan sedikit mengeluh dan bertanya-tanya kapan kita sampai pada lokasinya. Nah, itu lokasi yang dimaksudkan bukan langsung ke air terjunnya tapi baru lokasi tempat untuk memarkir mobil. Mungkin karena kami sudah tidak sabar untuk menikmati air terjun tersebut makanya kami selalu bertanya-tanya. Selang beberapa menit kemudian, akhirnya kami tiba di lokasi parkir mobil

Ternyata, ketika tiba di lokasi tempat parkir mobil. Suasana terasa sunyi dan hanya mobil kami terparkir. Sungguh disana, kami disungguhi pemandangan yang menakjubkan. Deretan pepehononan yang menjulang tinggi, beberapa pemandangan gunung yang cantik dan ketika aku berjalan lebih jauh dari tempat parkir mobil, aku sudah melihat air terjun yang akan kami datangi saat itu. Aku sendiri sudah tidak sabar untuk melihat air terjun tersebut. Namun, untuk sampai disana, kami harus melewati jalan setapak, menyebrangi sungai kecil, dan berjalan selama 2 jam.

Kami mulai berjalan kaki dengan penuh semangat. Pemandangan yang disajikan membuat kami semakin menikmati setiap langkah yang kami tempuh. Ditengah perjalanan, dua temanku memilih istirahat sejenak dikarenakan jalanan setapak yang mulai berubah menjadi cukup terjal dan sedikit menurun, sehingga membuat mereka kelelahan. Tetapi, aku dan keempat temanku memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan. Semakin jauh kami berjalan, kami lebih dimanjakan lagi dengan pemandangan dimana pohon-pohon yang menjulang tinggi memberikan kesejukan bagi kami. 


Setelah melewati jalanan yang menurun dan kurang lebih memakan waktu satu jam. Aku dan teman-temanku memilih beristirahat sejenak. Dibawah pohon yang rindang dan angin yang membantu mengeringkan keringku sedikit demi sedikit dan aku juga dapat mengatur nafas yang tergesah-gesah menjadi normal kembali. Mengumpulkan tenaga untuk memulai perjalanan. Saat istirahat kami juga menunggu dua teman kami yang ditinggalkan dari tadi ditengah perjalananan.

Beberapa menit kami istirahat. Kami melanjutkan perjalanan, namun perjalanan yang dilewati ini semakin terjal. Kami harus hati-hati melewati jalanan tersebut. Selain terjal, jalanan yang dilewati cukup licin, sehingga kami harus begitu berhati-hati karena ketika sedikit mengambil langkah yang salah kami bisa terjatuh. Setelah melewati jalan yang luar biasa, kami dihadapkan dengan sungai kecil yang harus disebrangi. Sungai itu begitu jernih dan airnya cukup dingin. Aku dan teman-temanku menyempatkan mencoba merasakan kejernihan dan kedinginan dengan membasuh muka. Kami juga sedikit melakukan candaan dengan menyiram satu sama lain. Canda dan tawapun menghiasi pemandangan saat itu. 




Setelah melewati sungai kecil, kami melanjutkan perjalanan dan semakin jauh, jalanan lebih menantang. Kami harus melewati jalan yang licin dan sedikit sempit. Tapi, itu membuat kami harus tetap berjalan lebih semangat. Semakin lama diperjalanan, kami semakin mendengar suara air terjun yang menjadikan kami lebih bersemangat karena rasa yang sudah tidak sabar lagi untuk melihat keindahannya. Ditengah perjalanan, kami harus melewati genangan lumpur tapi kami tidak begitu khwatir karena lumpur yang dilewati bukanlah lumpur hidup. Ketika kami berhati-hati melewatinya, suara “Plak!” terdengar. Aku berbalik arah dan ternyata salah satu temanku terjatuh kedalam genagan lumpur tersebut. Dan saat itu aku dan teman lain secara spontan terlebih dulu menertawai lalu menolongnya. Temanku yang terjatuh ikut tertawa dan kami saling menertawakan. Kemudian, setelah menolongnya tiba-tiba sandal temanku terputus. Dan kembali kami saling tertawa lagi.  Pada saat itu kami selalu saling mengejek satu sama lain. Pada akhirnya, kami kembali melakukan perjalanan. Beberapa menit berjalan lagi, kami melewati tumbuhan yang begitu beraneka ragam. Saat menikmati keindahan tumbuhan tersebut, suara gemercik air terjun semakin terdengar. Dan alhasil setelah berjalan kembali, air terjun sudah terlihat dan saat itu raut wajah kami mulai kembali bersemangat.

Kesejukan dan keindahan air terjun sudah terlihat didepan mata. Gemercik air membasahi wajah kami. Rasa dingin dan kesegaran air mulai kami nikmti bersama. Aku dan temanku melangkahkan kakiku menuju bebatuan yang lebih dekat dengan air terjun. Kemudian kami berdiri dan berteriak sepuasnya. Didepan air terjun aku dan teman-temannku melampiaskan semua kelelahan dan kejenuhan yang kami alami selama ini. Setelah itu, kami tidak lupa untuk mengabadikan setiap moment kami disini. Perjalanan menuju ke air terjun memerlukan perjuangan yang tidak tangguh-tangguh, melewati setiap rintangan, jalanan yang begitu terjal dan sebagainya mengahruskan kami tetap berjalan dengan penuh semangat untuk sampai pada tempat ini. Yah, begitupun perjalanan hidup. 
 Setiap perjalanan dan bahkan itupun untuk liburan aku selalu mengambil hikmah dari setiap langkah untuk sampai pada tujuan. Mengambil setiap moment dan menjadikannya satu cerita tambahan lagi dalam hidupku. Ini pertama kalinya aku melakukan perjalanan seperti ini, liburan sambil berpetualangan dan memerlukan langkah yang lebih dari liburan sebelumnya mengajarkan aku tentang proses, usaha, dan bersykur. Yah, lewat liburan ini aku juga bersyukur lewat alam karena atas seizing-Nya, aku dapat mengunjungi tempat-tempat yang menkajubkan seperti ini.

Setengah jam berlalu menikmati tempat ini. Aku dan teman-temanku harus meninggalkan tempat ini. Perasaan seperti bahagia, bersyukur, dan sedih telah bercampur aduk. Tapi, perasaan kelegahan dan kegembiran lebih mendominasi didalam hati kami. Jejak langkah kaki kami disini membuat kami akan rindu dengan perjalanan dan air terjun ini. Setelah itu, aku dan temanku bergegas meninggalkan air terjun dan melewati kembali jalanan yang telah dilewati sebelumnya. Semoga aku dapat kembali melakukan perjalanan seperti ini berpetualangan, menikmati setiap langkah, dan dengan siapapun itu yang mengajakku, aku akan selalu meniyakannya.


Kamis, 21 Januari 2016

Aku dan Hikmah Kemacetan



Tepat pukul delapan pagi, saya bergegas memulai aktivitas seperti hari biasanya, dengan mengawali beberapa doa dan niat. Saya keluar dari rumah menuju kampus dengan mengendarai si putih beroda dua yang tidak enak dipandang. Pagi itu, Si Putih lebih tepat dipanggil dengan sebutan Si Kotor, dikarenakan beberapa hari ini cuaca yang tidak menentu, seperti siangnya panas dan sorenya hujan, sehingga jalanan memberikan hiasan dan bercak yang tentunya tidak akan bagus untuk dipandang pada Si putih dan kawan-kawannya. Lupakan Si Putih dan kawan-kawannya, mari kembali fokus. Saya mulai menyalakan mesin dan mengendarai Si Putih dengan penuh santai. 

Beberapa menit dijalan, dari kejauhan yang semakin mendekat. Kemacetan menjadi pemandangan yang sering terlihat setiap harinya. Dan lagi, seperti biasa saya hanya bisa mengucapkan kalimat “Yah.. dapat macetma seng..tapi asik bisaka lihat kiri kekanan.“ (Yah… macet lagi.. tapi asik akhirnya saya bisa melihat kiri kekanan). Bagi saya, ketika macet dijalan itu adalah hal yang wajar dan percuma jika dikeluhkan. kemudian pada akhirnya, saya mencoba mengambil sisi positif saat macet, yaitu kita bisa melihat lebih luas, bisa istirahat menarik gas dalam beberapa detik, dan bisa memerhatikan raut wajah manusia-manusia pengendara yang kesal dengan kemacetan. Terlepas dari sisi positif versi diri saya, tentunya kemacetan akan berujung pada kata capek karena harus ngerem berkali-kali, mengeluh, kepanasan, dan yang paling sering berujung pada kata terlambat.


 
Sumber: www.google.co.id

Kemacetan merupakan situasi atau keadaan dimana terhentinya lalu lintas karena jumlah kendaraan di jalan melebihi kapasitas jalan. Namun, menurut saya, kemacetan merupakan buah hasil dari waktu yang kita sendiri tunda sebelum bepergian. Karena sebelumnya, kita sudah tau pada jam berapa kita harus berada pada tempat yang akan didatangi. Otomatis, kita harus bersiap-siap sejam sebelum menuju ke lokasi yang ingin didatangi dan tentunya memikirkan hal-hal yang kemungkinan bisa menjadi penghalang untuk tepat waktu. Sederhananya saja kemungkinan yang bisa terjadi adalah kemacetan yang sudah menjadi pemandangan keseharian dijalan. Beberapa orang khususnya pengendara muda (termasuk saya) terkadang lalai dengan waktu dan ketika sampai ke lokasi, mereka menjadikan kemacetan sebagai alasan utama sebagai keterlambatan. 

Kasihan kemacetan selalu disalahkan, padahal yang menyebabkan kemacetan sendiri para pengendara dijalan. Sebenarnya sudah banyak cara yang dilakukan pemerintah dalam mencegah terjadinya kemacetan di jalan. Salah satu, program Pemerintah untuk menanggulangi kemacetan dengan memperadakan busway di tiap titik jalan utama, memperluas jalan, dan sebagainya. Memperluas jalanpun tidak cukup mudah. Ada beberapa yang harus berkorban untuk memperluas jalan, yaitu pedagang pinggir jalan. Mereka harus berhenti berjualan demi memperluas jalan agar tidak macet, tetapi alhasil dijalanan tetap saja ada kemacetan. 

Entahlah, berbicara tentang kemacetan memang tidak ada habisnya. Bahkan yang disalahkan karena terjadi kemacetan tidak akan ada habisnya, karena kita pengendara sendiri yang memunculkan situasi seperti itu. Tapi dari kemacetan, seharusnya kita sadar bahwa ternyata kita belum bisa mengatur, baik mengatur waktu dan mengatur emosi. Yah, mengatur waktu jelas penyebabnya. Ketika kita terburu-buru, mengundur-undur waktu, tidak bergerak cepat, tergesah-gesah dan tidak memikirkan hal-hal yang dapat menghambat dalam perjalanan (bertemu dengan kemacetan). Padahal kita sudah tau jam berapa harus segera tiba di tempat yang dituju, kemungkinan kita akan terlambat. Kemudian mengatur emosi, yah kita harus dapat mengontrol emosi ketika bertemu dengan kemacetan. Kita harus punya sikap tenang, sabar, dan tidak menyalahkan keadaan. 

Sebenarnya, kita bisa belajar dari keadaan yang kita tidak suka sama sekali, seperti ketika berada dalam kemacetan kita bisa belajar mengontrol diri, menyadari bahwa ada beberapa menit waktu yang terbuang, belajar mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda dengan orang lain dan mengambil sisi positif dari setiap kejadian yang ada.

Setelah beberapa menit melewati kemacetan, saya merasa lega ketika sudah memasuki jalanan yang tidak macet lagi. Rasanya, seperti sudah melewati ujian seminar proposal (Yah.. salah fokus).  Dan beberapa menit melewati perjalanan, akhirnya saya sampai pada tempat yang dituju, yaitu kampus. Sama seperti hari sebelumnya, saya harus bercengkrama dengan kata menunggu untuk bertemu dengan dosen. Entahlah, akhir-akhir ini menunggu dan digantungin, dua kata yang sering bersahabat denganku.

Minggu, 17 Januari 2016

Ayah dan Anak Perempuanya

Kenalin aku Aliyah, perempuan berusia 21 tahun yang berproses menjadi anak perempuan Ayah. Disuatu malam yang dingin dan agak sunyi, aku duduk disamping Ayah. Posisi duduk kami berdua sedikit lucu. Lucu karena kami melakukan gerakan-gerakan yang sama ketika duduk. Misalnya, Ayah yang pastinya menggerakan kaki kiri ketika duduk, itu akupun juga melakukan hal yang sama. Ayah yang terkadang beberapa kali mengupil, akupun juga ternyata melakukannya. Hmm.. Ternyata anak perempuan dan Ayahnya jika bertemu ada banyak kesamaan yang terlihat. Sedikit lucukan? Lanjut lagi Ayah waktu itu sedang sibuk menonton sinetron kesukaannya. Sinetron yang ia tonton cukup tidak sepadan dengan usianya karena sinetron itu bergendre remaja. Tapi apalah kalau sudah terlanjur suka, ayah mah tidak akan mikir-mikir lagi kalau sinetron yang ditontonnya sesuai dengan usianya atau tidak. Mungkin, Ayah pass suka dengan Ibu, ngak pake banyak mikir juga kali yah? Taulah

Kemudian, Ketika Ayah yang lagi asiknya nonton. Aku cuman berfokus pada hp yang kumainkan sambil membuka-buka media sosial. Tidak ada percakapan diantara kami, sepertinya kami hanya sibuk dengan keasyikan kami sendiri. Dalam beberapa menit, sinetron ayah habis. Biasanya, ketika sinetron ayah habis, ia langsung masuk kamar dan istirahat. Tapi, malam ini berbeda. Ayah duduk lebih lama disampingku tanpa mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.

Aku yang awalnya sibuk main hp langsung mematikan hp dan menatap ayah. Entah kenapa, hatiku melemah ingin rasanya aku memeluknya, menceritakan segala benakku, keseharianku, tapi aku bukanlah tipe anak yang terbuka dengan orang tua, apalagi kepada Ayah. Kami masih bersama dalam diam dan hening. Seolah-olah kami sudah berbincang lewat hati. Aku melihat ayah, dimatanya sudah banyak pertanyaan-pertanyaan yang ia ingin tanyakan dan tidak hanya itu ada juga banyak nasehat-nasehat yang tentunya ia ingin lontarkan kepadaku.

Aku sebenarnya ingin memulai percakapan dengan Ayah. Tapi, entah kenapa lagi, malam ini hatiku benar-benar melemah. Air mata tiba-tiba terjatuh, aku langsung menghapusnya dan kembali tersenyum menatap Ayah tapi untungnya Ayah kembali melihat kedepan layar tv dan habis itu, aku memulai pembicaraan.
Aku: Ayah…
Ayah: Iya. Kenapa? Ada apa?
Aku: Ayah tidak tidur? Kan sinetronnya udah habis. Kenapa ngak tidur?
Ayah: belum ngantuk nak. Kamu sendiri? Tidur sana.
Aku: (diam sejenak, sambil mikir apa aku cerita saja yah ke Ayah?) *dalam hati.
Malam itu, sungguh sepertinya aku ingin sekali menceritakan semua yang kulalui kepada ayah. Tentang, kuliah, pertemanan, masa depan, pokoknya tentang semuanya. Kecuali, tentang perasaan. Bukanya kenapa-kenapa aku belum berani lihat Ayah cemburu pada laki-laki lain. Kemudian, aku lanjut pembicaran dengan ayah setelah beberapa detik aku tidak menjawab pertanyaannya.
Aku: belum ngantuk Yah. Ayah, aku mau cerita dengan Ayah. Bisaa?
Ayah: tumben mau cerita sama Ayah biasanya di kamar terus mainin hp atau buka leptop…
Mendengar jawaban Ayah seperti itu, rasanya aku ingin nangis karena kenapa, jawaban ayah berisi kekecewaan dan aku baru sadar tentang itu bahwa sepertinya selama ini aku hanya meluangkan waktuku begitu sedikit untuk ayah. Bagaimana tidak. Ayah bekerja dari subuh dan aku masih tidur, lalu pulang sore. sedangkan aku dihari kuliah, aku pergi dari rumah pagi dan tiba dirumah malam dan biasanya aku tiba dirumah ketika ayah sudah istirahat bersama ibu. Paling kalau aku pulang lebih awal, aku cuman ada dikamar saja. Jadi, aku tidak heran jika Sampai-sampai ayah menyindirku dengan berkata seperti itu. Kemudian aku lanjut berbincang

Aku: hhehehe (sambil garuk-garuk kepala) Yahh… Ayah jangan gitulah.
Ayah: Iya..iya. Mau cerita apa?
Aku: aku mau ceritaa tentang kuliahku yah ini hari.
Ayah: sudah tidak perlu kau cerita, ayah sudah tau apa yang kau lakukan di kampus dan bahkan di luar rumah…
Aku: Haaaa… (Aku kaget! Terus tiba-tiba mikir. Jangan-jangan Ayah punya mata-mata diluar. Waduh!) kok ayah tau? Akukan belum pernah cerita sama Ayah!..
Ayah: Iyalah ayah tau. Ayah tau kalau kamu itu lagi belajar di kampus, Ayah tau kamu itu jalan sama siapa hari ini bahkan hari-hari kemarin. Ayah tauu. Hhaha (sedikit tersenyum)
Aku: (masih dalam keadaan penasaran maksud ayah sebenarnya apa? Apa betul ayah punya mata-mata?) emangnya tadi habis kuliah aku kemana yah? Ayah tau? (Mencoba memancing Ayah)
Ayah: hhahaha… Ayah tau dong kamu setelah kuliah ngapain! Dan perginya sama siapa.
Aku: (muka yang bertambah penasaran dan mulai tremor. Soalnya tadi siang aku pulang kuliah agak cepat dan lanjut jalan-jalan bareng teman-teman) ahh ayah ngak taukan? Cuman pura-pura tau? Huuu
Ayah: sini.. Kursinya didempetin ayah akan jelaskan kenapa ayah bisa tau…
Aku: (memindahkan kursi dan meletakkannya lebih dekat dengan ayah) okee sudahh. Ayoo ceritakan! Pasti ayah punya mata-matakan? (Sedikit bercanda tapi dengan muka serius sih)
Ayah: oke ayah ceritakan. Ayah tidak punya mata-mata yang seperti dituduhkan olehmu nak. Ayah punya perasaan dan kepercayaan yang kuberikan sama kamu, sama adik-adikmu juga. Ayah pernah bilangkan sebelum kamu masuk kuliah. Ayah bilang, kamu harus jaga baik-baik dirimu, sebagai perempuan kamu harus mampu menjaga pergaulanmu. Di masa kuliah, kamu akan lebih banyak meluangkan waktumu untuk belajar, berteman, bergaul, dan memilih apa yang kau akan lakukan, serta lebih banyak menyibukkan diri diluar rumah. Ayah sangat paham akan hal itu dan Ayah tidak terlaku khawatir terhadapmu, tentang apa yang kamu lakukan diluar sana. Ayah dan ibu selalu berdoa dan percaya bahwa selama kami mendoakanmu, mendoakan adik-adikmu kepada Allah. Allah akan selalu melindungi kalian dimana saja. Tapi, jujur nak.. Akhir-akhir ini Ayah sedikit kecewa karena kamu terlalu sibuk, sampai-sampai kamu beberapa hari ini jarang berbincang dengan ayah dan ibu. Kita memang bukan tipe keluarga yang selalu menceritakan dan mendengarkan setiap harinya apa yang kamu perbuat, apa yang ayah perbuat, dan apa yang ibu perbuat dikarenakan ayah dan ibu harus beranjak pagi untuk mencari nafkah. Intinya, ayah selalu percaya bahwa yang kau perbuat diluar rumah itu adalah hal-hal yang bermanfaat. Jadi, jangan heran jika Ayah selalu tau apa yang kau perbuat.

Mendengar kata-kata ayah yang begitu menyentuh dan begitu masuk kedalam benakku, seolah-olah pikiranku menuliskan semua kata-kata Ayah. Aku sempat mengeluarkan sedikit air mata yang dengan begitu cepat kuhapus. Begitu banyak harapan, begitu sayangnya ayah kepadaku, kepada adik-adikku meyakinkanku bahwa aku harus terus melangkah, menjadi perempuan kecil yang ayah dambakan dan bisa bermanfaat nantinya. Tutur bahasa dan kata yang Ayah lontarkan kepadaku, membuatku sadar tentang Ayah yang sesungguhnya.

Sehabis percakapan yang singkat namun menyentuh itu. Aku sedikit meletakkan kepalaku dibahu Ayah. Dan mencairkan suasana yang jadi kaku. Aku memulai berbincang dengan topik baru. Topik yang berbau romantis. Ini tentang Ayah dan Ibu. Hhehehe